Yazid bin Walid bin Abdul Malik (744 M) Terlalu Banyak Kemelut

REPUBLIKA.CO.ID, Setelah Khalifah Walid bin Yazid bin Abdul Malik terbunuh oleh para pengepungnya, jabatan khalifah dipegang oleh Yazid bin Walid bin Abdul Malik. Ia adalah sepupu sang khalifah. Ayah Yazid adalah Walid bin Abdul Malik, saudara kandung Yazid bin Abdul Malik, ayah Walid (khalifah sebelumnya). Yazid bin Walid menjabat sebagai khalifah keduabelas Daulah Umayyah.

Para sejarawan sering menulis namanya dengan Yazid III karena ia adalah sosok ketiga bernama Yazid yang menjabat khalifah Daulah Umayyah. Yazid I adalah Yazid bin Muawiyah, khalifah kedua. Yazid II adalah Yazid bin Abdul Malik, khalifah kesembilan. Sedangkan Yazid III adalah Yazid bin Walid, tokoh yang kini sedang dibahas.

Ia dibaiat sebagai khalifah pada usia 46 tahun. Kebijakan pertama yang ia lakukan adalah mengurangi jumlah bantuan sosial dan mengembalikannya pada anggaran biasa seperti pada masa Khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Kebijakan itu menyebabkan ia dikenal dengan julukan An-Naqish (sang Pengurang).

Masa pemerintahan Yazid diwarnai dengan beragam kemelut. Hal ini tak mengherankan karena untuk mendapatkan jabatan khalifahnya,Yazid pun menumpahkan darah dengan terbunuhnya Walid bin Yazid, khalifah sebelumnya.

Di antara mereka yang mengadakan gerakan ini adalah Sulaiman bin Hisyam. Pada masa pemerintahan Walid bin Yazid, Sulaiman termasuk di antara mereka yang dijebloskan ke penjara. Ketika Khalifah Walid bin Yazid mangkat dan Yazid III naik tahta, Sulaiman dibebaskan. Namun ia melihat dirinya pun berhak atas jabatan khalifah. Ia segera mengerahkan pendukungnya untuk merebut jabatan khalifah dari tangan Yazid. Hanya saja, Khalifah Yazid berhasil membujuknya dan Sulaiman kembali melakukan baiat.

Dari negeri Hims juga muncul rencana perebutan kekuasaan. Ketika mendengar terbunuhnya Khalifah Walid bin Yazid, para pendukungnya dari negeri Hims segera bergerak menuju Damaskus. Khalifah Yazid segera mengirimkan pasukan besar untuk menghalaunya. Pasukan Hims kalah dan sisa-sisa tentaranya kembali menyatakan baiat.

Selain dua gerakan itu, dari wilayah Armenia dan Kaukasus, muncul juga usaha perebutan kekuasaan. Sejak terbunuhnya Walid bin Yazid, Marwan bin Muhammad segera mempersiapkan rencana kudeta. Rencana berbahaya itu segera terdengar oleh Khalifah Yazid. Ia pun segera mengirimkan utusan kepada Marwan. Sang Khalifah membujuknya agar tak melakukan penyerangan. Ia menjanjikan tambahan wilayah kekuasaan Azerbaijan dan Mosul kepada Marwan. Gubernur Marwan pun setuju dan kembali membaiat.

Tampaknya, fanatisme kesukuan benar-benar telah mewabahi pemerintahan Yazid. Di samping usaha perebutan kekuasaan di atas, dari lembah Irak juga muncul gejolak. Namun gubernurnya berhasil meredam gejolak masyarakat. Penduduk Yamamah juga demikian. Mereka berusaha melakukan kudeta terhadap gubernurnya.

Gejolak di wilayah Khurasan justru lebih parah. Gubernur Nushair bin Sayyaf menolak keinginan Khalifah Yazid yang ingin mengalihkan jabatannya pada Panglima Manshur bin Jamhur. Konflik berdarah pun terjadi.

Keadaan pemerintahan Khalifah Yazid semakin tak menentu. Gerakan Abbasiyah yang sejak beberapa tahun terakhir mulai muncul, makin berani unjuk diri. Beragam kerusuhan itu berakibat pukulan batin dari diri Khalifah Yazid.

Ia meninggal pada 7 Dzulhijjah 126 Hijriyah setelah sebelumnya mengalami kelumpuhan fisik. Ada yang mengatakan ia meninggal karena penyakit tha’un. Masa pemerintahannya hanya beberapa bulan. Ia wafat tanpa meninggalkan jejak emas berarti. Bahkan ia mewariskan beragam permasalahan yang kelak berujung pada berakhirnya kejayaan Daulah Umayyah.

sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/04/23/lk46m5-daulah-umayyah-yazid-bin-walid-bin-abdul-malik-744-m-terlalu-banyak-kemelut

Yazid bin Abdul Malik (720-724 M) Menderita Tekanan Batin

REPUBLIKA.CO.ID, Hisyam bin Abdul Malik adalah khalifah kesepuluh Daulah Umayyah. Ketika dilantik menjadi khalifah menggantikan saudaranya, Yazid bin Abdul Malik, usianya baru 35 tahun. Ia menjabat khalifah selama hampir 20 tahun. Para ahli sejarah menyebutnya negarawan yang ahli dalam strategi militer. Pada masa pemerintahannya, selain memadamkan kemelut internal, ia juga meluaskan wilayahnya ke luar.
Ketika imperium Romawi Timur berada di bawah kekuasaan Kaisar Leo III. Ia berhasil memulihkan wewenang pemerintahan pusatnya di daerah Balkan. Kini Kaisar Leo III kembali ingin merebut wilayah Asia Kecil dari kekuasaan Daulah Umayyah yang sedang dipimpin Hisyam bin Abdul Malik. Jadi, dua kekuatan siap berhadap-hadapan.

Sementara itu, sepeninggal Empress Wu yang mengalami kemelut berkepanjangan, Dinasti Tang di Tiongkok berhasil memulihkan diri di bawah kekuasaan Kaisar Hsuan Tsung. Setelah kondisi internal pulih, ia bermaksud merebut daerah Sinkiang (Turkistan Timur) yang berhasil ditaklukkan oleh Panglima Qutaibah bin Muslim.

Di wilayah Andalusia, Khalifah Hisyam mengukuhkan Panglima Anbasa bin Syuhain sebagai gubernur menggantikan Sammah bin Malik Al-Khaulani yang gugur. Dengan pasukan cukup besar, Panglima Anbasa menyeberangi pengunungan Pyren dan menaklukkan wilayah Narbonne di selatan Prancis. Selanjutnya ia maju ke Marseilles dan Avignon serta Lyon, menerobos wilayah Burgundy.

Kemenangan itu membangkitkan semangat Anbasa. Ia terus maju ke arah utara dan menaklukkan beberapa daerah sampai ke benteng Sens di pinggir sungai Seine yang jaraknya hanya sekitar 100 mil dari Paris, ibukota wilayah Neustria kala itu.

Karel Martel, yang menjadi pejabat wilayah Neustria, segera maju menghadang pasukan kaum Muslimin. Terjadi pertempuran sengit. Panglima Anbasa gugur, dan pasukannya bertahan di wilayah selatan Prancis.

Peristiwa itu segera sampai ke Damaskus. Khalifah Hisyam segera mengangkat Panglima Besar Abdurrahman Al-Ghafiqi untuk menggantikan Panglima Anbasa. Dalam hal melanjutkan cita-cita pendahulunya, Panglima Abdurrahman Al-Ghafiqi sangat hati-hati. Ia mempersiapkan pasukannya semaksimal mungkin. Tak hanya bekal makanan, tetapi juga fisik tentara untuk menghadapi cuaca dingin di daerah lawan.

Enam tahu kemudian, pasukan itu berangkat ke arah utara. Mereka berhasil merebut Toulouse, ibukota wilayah Aquitania kala itu. Karel Martel terpaksa mundur dan bertahan di benteng Aungoleme.

Nama Panglima Al-Ghafiqi tersebar luas di daratan Eropa. Karel Martel dan Raja Teodorick IV menyerukan seluruh rakyatnya untuk memberikan perlawanan. Sementara itu, pasukan Islam berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Pasukan Islam terlalu terbuai dengan harta rampasan. Ketika perang pecah, pasukan kaum Muslimin terdesak. Panglima Abdurrahman Al-Ghafiqi gugur.

Sementara itu, kemelut yang terjadi di kawasan Asia Kecil berhasil dipadamkan. Pasukan Romawi Timur yang ingin merebut daerah itu bisa dihalau setelah Khalifah Hisyam mengirim panglima Said Khuzainah dari wilayah Khurasan untuk membantu Panglima Maslamah bin Abdul Malik. Namun, dalam suatu peperangan Said gugur.

Khalifah Hisyam bin Abdul Malik wafat dalam usia 55 tahun. Namanya cukup harum dalam sejarah. Dalam ketegasannya, ia senang menerima masukan dari para ulama.
sumber:http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/04/23/lk41nt-daulah-umayyah-hisyam-bin-abdul-malik-724743-m-dekat-dengan-ulama

Yazid bin Abdul Malik (720-724 M) Menderita Tekanan Batin

REPUBLIKA.CO.ID, Yazid bin Abdul Malik menjabat khalifah kesembilan Daulah Umayyah pada usia 36 tahun. Khalifah yang sering dipanggil dengan sebutan Abu Khalid ini lahir pada 71 H. Ia menjabat khalifah atas wasiat saudaranya, Sulaiman bin Abdul Malik. Ia dilantik pada bulan Rajab 101 H.

Ia mewarisi Daulah Umayyah dalam keadaan aman dan tenteram. Sebelum meninggal, Umar bin Abdul Azis sempat menulis surat kepada Yazid, “Semoga keselamatan tetap terlimpah padamu. Saya ingatkan, jagalah umat Muhammad sebab engkau akan meninggal dunia. Engkau akan menghadap Dzat yang tidak memberikan maaf untukmu.”

Pada masa awal pemerintahannya, Yazid bertindak menuruti kebijakan Khalifah Umar bin Abdul Azis sebelumnya. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Menurut Imam As-Suyuthi dalam Tarikh Al-Khulafa’, kebijakan itu berlangsung hanya empat puluh hari. Setelah itu terjadi perubahan. Tampaknya, terlalu banyak penasihat yang tidak setuju dengan kebijakan positif yang diterapkan Umar bin Abdul Azis.

Di antara tindakan yang dilakukan Khalifah Yazid bin Abdul Malik adalah menumpas gerakan Yazid bin Muhallib. Sebelumnya, Yazid bin Muhallib menjabat sebagai gubernur wilayah Khurasan. Ia juga pernah menjabat gubernur Irak di Kufah dan Iran di Bashrah. Jabatan itu dipangkunya sejak Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik hingga masa Umar bin Abdul Azis. Karena dianggap melakukan gerakan-gerakan mencurigakan, Khalifah Umar bin Abdul Azis memintanya datang ke Damaskus dan menjatuhi tahanan kota.

Ketika Khalifah Umar bin Abdul Azis wafat, Yazid bin Muhallib segera melarikan diri. Ia khawatir khalifah terpilih, Yazid bin Abdul Malik, akan mengambil tindakan tegas atas dirinya. Sejak awal memang sering terjadi pertentangan antara dua orang yang senama itu.

Yazid bin Muhallib melarikan diri ke Irak. Karena pernah menjabat gubernur di wilayah itu, ia pun diterima oleh masyarakat. Nama keluarganya harum di kalangan rakyat Irak. Hal ini tidak mengherankan karena ayahnya, Muhallib bin Abi Shafra’, adalah penakluk lembah Hind.

Yazid bin Muhallib juga berhasil mengumpulkan dukungan rakyat Basrah untuk memecat Khalifah Yazid. Adanya gerakan itu sampai ke telinga sang khalifah di Damaskus. Yazid bin Abdul Malik segera meminta saudaranya, Maslamah bin Abdul Malik, untuk berangkat dengan pasukannya ke lembah Irak guna memadamkan gerakan Yazid bin Muhallib.

Perang saudara kembali terjadi. Pasukan Maslamah terus mengejar pasukan Yazid bin Muhallib dari benteng ke benteng. Hingga akhirnya Yazid tewas di medan pertempuran yang dikenal di daerah Al-Aqir, tak jauh dari Karbala. Selanjutnya Panglima Maslamah terus mengejar sisa-sisa pasukan lawannya. Hal yang tak mungkin dilupakan sejarah adalah tindakannya menghabisi seluruh keturunan dan keluarga Muhallib.

Peristiwa yang terjadi pada 101 Hijriyah itu cukup mengharukan masyarakat. Keluarga Muhallib dikenal baik dan dermawan. Mungkin karena tidak berani berhadapan langsung dengan pihak penguasa, keharuan dan simpati itu hanya tertuang dalam syair dan kata-kata bijak.

Setelah keamanan pulih, Khalifah Yazid bin Abdul Malik mengangkat Maslamah untuk bertanggung jawab terhadap wilayah timur yang mencakup Irak, Iran dan Khurasan yang berkedudukan di Bashrah.

Untuk memperluas wilayah Islam, Khalifah Yazid memerintahkan Panglima Tsabit An-Nahrawani, gubernur Armenia, untuk menaklukkan wilayah Khazars, utara Armenia antara Laut Hitam dan Laut Kaspia. Namun dalam sebuah pertempuran Panglima Tsabit tewas dan pasukannya porak-poranda.

Khalifah Yazid menunjuk Panglima Jarrah bin Ubaidillah untuk menjabat gubernur Armenia dengan tugas menaklukkan Khazars. Perintah itu ditunjang dengan pengiriman pasukan cukup besar dari Syria. Pasukan Jarrah berhasil menerobos wilayah Khazars dan menduduki kota Blinger dan beberapa kota lainnya.

Sementara itu, Sammah bin Abdul Malik Al-Khaulani, gubernur Andalusia yang berkeduduka di Toledo, berhasil menaklukkan benteng Lerida dan Gerona, lalu menyeberang ke pegunungan Pyrenees bagian timur wilayah Prancis Selatan. Ia terus melebarkan kekuasaannya hingga berhasil menaklukkan Avignon, Toulun dan merebut kota Lyon. Namun dalam usaha penaklukan benteng Toulouse, ia tewas dan pasukannya kembali ke Aquitane. Khalifah Yazid mengangkat Panglima Anbasa bin Syuhaim untuk menggantikan Sammah.

Khalifah Yazid bin Abdul Malik tidak berusia lama menyaksikan perluasan wilayah Islam itu. Ia meninggal dunia pada usia 40 tahun. Masa pemerintahannya hanya berkisar 4 tahun satu bulan. Konon ia meninggal akibat tekanan batin ditinggal seorang wanita yang ia cintai.

Beberapa waktu sebelum Yazid meninggal sempat terjadi konflik antara dirinya dan saudaranya, Hisyam bin Abdul Malik. Namun hubungan keduanya baik kembali setelah Hisyam lebih banyak mendampingi sang khalifah hingga wafat.

sumber:http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/04/23/lk38tp-daulah-umayyah-yazid-bin-abdul-malik-720724-m-menderita-tekanan-batin

Walid bin Yazid bin Abdul Malik (744 M) Melanggar Aturan Allah

REPUBLIKA.CO.ID, Walid bin Yazid bin Abdul Malik dilahirkan pada 90 Hijriyah. Ketika ayahnya, Yazid bin Abdul Malik, diangkat sebagai khalifah, Walid baru berusia 11 tahun. Seperti dituturkan At-Tabari dalam Tarikh Al-Umam wa Al-Muluk, ketika diangkat menjadi khalifah, Yazid bin Abdul Malik ingin mengangkat putranya, Walid sebagai putra mahkota. Namun saat itu Walid masih belum cukup usia. Yazid terpaksa mengangkat saudaranya, Hisyam bin Abdul Malik sebagai cikal penggantinya. Sedangkan Walid sebagai putra mahkota kedua.

Ternyata, Yazid masih hidup hingga putranya cukup usia. Yazid sangat menyesal karena terlanjur mendahulukan saudaranya daripada putranya sendiri. Menurut riwayat, ia pernah berkata, “Tuhanlah yang menjadi hakim antara aku dan orang-orang yang telah menjadikan Hisyam sebagai pemisah antara aku dan engkau.”

Begitu Yazid meninggal, Hisyam naik tahta sebagai khalifah kesepuluh Daulah Umayyah. Sudah bisa ditebak, terjadi pertentangan antara Khalifah Hisyam dan keponakannya, Walid bin Yazid. Apalagi beberapa ahli sejarah menyebutkan, akhlak Walid tidak terlalu baik. Ia sering minum-minuman keras dan berfoya-foya.

Kisah buruk tentang Khalifah Yazid ini tentu saja tidak bisa diterima begitu saja. Ketika terjadi pertentangan antara dua keluarga itu, tentu peluang menjelek-jelekkan nama baik musuh sangat besar.

Selama pemerintahan Hisyam, Walid lebih banyak menghabiskan waktunya di luar Damaskus. Ketika Khalifah Hisyam bin Abdul Malik meninggal dunia, Walid sedang berada di Azrak, utara Damaskus. Ia segera kembali ke Damaskus dan dibaiat menjadi khalifah kesebelas Khalifah Bani Umayyah. Saat itu usianya sekitar 39 tahun.

Kebijakan pertama yang ia lakukan adalah melipat-gandakan bantuan kepada orang-orang buta dan tua yang tidak memiliki keluarga untuk merawatnya. Ia menetapkan anggaran tersendiri untuk membiayai masalah itu. Ia juga memerintahkan untuk memberikan pakaian kepada orang-orang miskin.

Pertentangan antara keluarga Yazid bin Abdul Malik dan Hisyam bin Abdul Malik agaknya tidak berhenti ketika keduanya meninggal. Ketika berkuasa, Yazid menangkapi orang-orang yang dianggap dapat membahayakan kekuasaannya, termasuk keluarga Hisyam. Ketika terjadi penangkapan besar-besaran itu, Yazid bin Walid bin Abdul Malik sempat melarikan diri. Secara diam-diam, Yazid berhasil menghimpun kekuatan. Ia pun dibaiat oleh keluarga Yamani di daerah Syria dan Palestina.

Mengetahui ada gerakan yang akan membahayakan kekuasaannya, Khalifah Walid bin Yazid segera mengerahkan pasukan untuk menghancurkan pasukan Yazid. Namun terlambat, pasukan Yazid lebih dahulu bergerak menuju istana. Khalifah Walid terkepung. Pada detik-detik menentukan itu, sebagian besar pasukan andalannya justru bersatu dengan musuh.

Khalifah Walid segera melarikan diri ke kediamannya. Namun sepuluh orang di antara pasukan musuh berhasil menemukan persembunyiannya. Ketika dikepung ia sempat berkata, “Bukankah aku telah memberikan hadiah kepada kalian? Bukankah aku telah meringankan beban kalian yang berat? Bukankah aku telah memberi makan orang-orang fakir di antara kalian?”

Mereka yang mengepungnya menjawab, “Kami tidak membencimu dari diri kami sendiri. Kami mengepungmu karena engkau terlalu banyak melanggar batasan-batasan aturan Allah. Engkau minum minuman keras, menikahi istri ayahmu dan melecehkan perintah Allah.”

Ia meninggal pada usia 40 tahun, dan kepalanya dipancung. Ia memerintah selama satu tahun dua bulan 22 hari saja.

sumber:http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/04/23/lk44k0-daulah-umayyah-walid-bin-yazid-bin-abdul-malik-744-m-melanggar-aturan-allah

Walid bin Abdul Malik (705-715 M) Penegak Bani Umayyah

REPUBLIKA.CO.ID, Walid Abdul Abbas bin Abdul Malik bin Marwan bin Hakam lahir pada tahun 48 Hijriyah. Ia menjabat khalifah menggantikan ayahnya, Abdul Malik bin Marwan tahun 84 Hijriyah atau 705 Masehi.

Setelah menjadi khalifah, ia langsung membenahi infrastruktur fisik, pengiriman pasukan untuk memperluas wilayah dakwah dan kekuasaan Islam serta melakukan reformasi sosial. Pada 711 Masehi, Walid bin Abdul Malik mengutus satu armada laut ke Hindustan. Pasukan yang dipimpin oleh Muhammad bin Qasim itu akhirnya menaklukkan negeri Sind dan Nepal.

Walid memerintah selama 10 tahun. Panglima pasukan Islam pada zamannya, dikerahkan untuk melakukan ekspansi dakwah ke berbagai belahan dunia. Panglima Qutaibah bin Muslim diutus untuk menaklukkan negeri di seberang sungai Dajlah. Turki, Shagd, Syaas, Farghanah, hingga Bukhara, akhirnya tudnduk di bawah pemerintahan Bani Umayyah.

Di sisi lain, negeri Khurasan takluk dengan damai. Berbeda dengan Samarkand, Kashgar, Turkistan yang takluk dengan peperangan di bawah pimpinan Qutaibah bin Muslim.

Musa bin Nushair, Gubernur Afrika mengirim Thariq bin Ziyad untuk menaklukkan pulau Shamit tahun 91 H. Thariq adalah budak Musa bin Nushair yang telah dimerdekakan. Bahkan ia telah diangkat menjadi panglima perang. Dalam misinya, Thariq berhasil mengalahkan Spanyol (Ishbaniyah).

Pahlawan legendaris satu ini terkenal dengan taktiknya membangkitkan semangat pasukannya yang hampir mundur. Akhirnya, mereka tak punya pilihan kecuali maju berjihad mengalahkan Spanyol. Ia kemudian bermarkas di sebuah bukit di Spanyol yang kini dikenal dengan Jabal Thariq (Gibraltar).

Masing-masing bekas tuan dan budak itu, Musa bin Nushair dan Tariq bin Ziyad, berhasil menunaikan tugas melebarkan sayap Islam. Praktis seluruh daratan Spanyol dikuasai pasukan Muslim pada 86 H (715 M), pada masa pemerintahan Khalifah Walid bin Abdul Malik.

Penaklukan Spanyol oleh Musa bin Nushair dan Thariq bin Ziyad memberikan pengaruh positif pada kehidupan sosial dan politik. Timbul revolusi-revolusi sosial dan kebebasan beragama semakin diakui. Kediktatoran dan penganiayaan yang biasa dilakukan oleh orang Kristen digantikan toleransi yang tinggi dan kebaikan umat Islam.

Pemerintahan Islam sangat baik dan bijak dalam menjalankan pemerintahannya. Ini membawa efek luar biasa terhadap kalangan Kristen, bahkan para pendetanya. Seorang penulis Kristen pernah berkata, “Muslim-Muslim Arab itu mengorganisir kerajaan Cordoba dengan baik. Ini sebuah keajaiban di abad pertengahan. Mereka mengenakan obor pengetahuan, peradaban, kecemerlangan dan keistimewaan bagi dunia Barat. Saat itu Eropa dalam kondisi percekcokan, kebodohan dan gelap.”

Pada saat kekuasaan Islam berkembang dan menguasai wilayah-wilayah Spanyol, Romawi, Hindustan, dan lain-lain, Khalifah Walid mengkonsentrasikan pembangunan fisik. Sarana-sarana fisik dan infrastruktur untuk kemakmuran rakyat dibangun di mana-mana.

Ia memerintahkan pembangunan sumur air di Madinah dan renovasi jalan-jalan umum. Dialah yang membangun rumah sakit pertama kali dalam sejarah Islam. Para penyandang cacat dan kaum dhuafa dilarang keluar ke tempat umum. Mereka ditempatkan di panti jompo dan para pengurusnya digaji dan difasilitasi oleh negara. Para tuna netra diberikan pembantu yang juga ditanggung negara. Negara juga memberikan gaji kepada para ahli Al-Qur’an.

Khalifah Walid juga membangun sarana rumah singgah bagi para musafir dan pendatang. Masjid Nabawi di Madinah dan Masjid Al-Aqsha dibangun kembali oleh Walid. Ia juga memprakarsai pembangunan masjid besar di Damaskus yang dikenal dnegan Al-Jami’ Al-Umawi. Pembangunan masjid agung ini menelan biaya 11.200.000 dinar kala itu.

Tak heran bila Adz-Dzahabi mengatakan, Walid bin Abdul Malik telah menegakkan jihad dan melakukan penaklukan di negeri-negeri seperti yang dilakukan Umar bin Al-Khathab. Seorang sejarawan juga pernah berujar, “Jika Muawiyah yang mendirikan negara Bani Umayyah, maka Walid bin Abdul Malik yang menegakkannya sampai teguh.”

Walid bin Abdul Malik meninggal tahun 96 Hijriyah di Damaskus. Kekhalifahan digantikan oleh saudaranya, Sulaiman bin Abdul Malik.

sumber:http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/04/22/lk1jin-daulah-umayyah-walid-bin-abdul-malik-705715-m-penegak-bani-umayyah

Sulaiman bin Abdul Malik (715 -717 M) Khalifah Ketujuh

REPUBLIKA.CO.ID, Sulaiman bin Abdul Malik naik tahta sebagai khalifah menggantikan saudaranya, Walid bin Abdul Malik, pada usia 42 tahun. Ia hanya memerintah selama dua tahun (97 H-99 H).

Menurut sebagian ahli sejarah, menjelang wafatnya, Walid bin Abdul Malik tidak sempat menunjuk seseorang sebagai pengganti. Para pemuka keluarga Bani Umayyah akhirnya memutuskan Sulaiman bin Abdul Malik sebagai Khalifah Ketujuh Daulah Umayyah di Damaskus, Syria. Saat itu Sulaiman sendiri berada di kota Ramallah. Ia baru mengetahui berita wafatnya Walid setelah sepekan kemudian.

Begitu menjabat khalifah, banyak perubahan yang dilakukan Sulaiman bin Abdul Malik. Yang terbesar adalah pergantian beberapa pejabat penting pemerintah. Inilah yang membuat puncak kejayaan Daulah Umayyah menurun.

Sebelumnya, Abdul Malik bin Marwan dan Walid bin Abdul Malik menempatkan tokoh-tokoh terkuat di beberapa daerah. Misalnya, Hajjaj bin Yusuf dan Qutaibah bin Muslim ditempatkan di wilayah timur, sedangkan Musa bin Nushair dan Thariq bin Ziyad ditempatkan di wilayah barat. Sulaiman bin Abdul Malik memberhentikan ketiga tokoh tersebut.

Musa bin Nushair, penakluk Spanyol dan Portugal, tiba di Damaskus tiga hari sebelum Walid bin Abdul Malik wafat. Tanpa alasan yang bisa diterima, Musa bin Nushair diberhentikan dan dibuang ke Madinah. Dua tahun kemudian, tokoh ini wafat.

Putra Musa bin Nushair, Abdul Malik bin Musa yang menjabat gubernur wilayah Afrika di Kairawan juga diberhentikan. Sebagai penggantinya diangkatlah Muhammad bin Yazid. Sedangkan Abdul Azis bin Musa, putra Musa bin Nushair yang menjabat gubernur di wilayah Andalusia yang berkedudukan di Toledo, dikudeta oleh pasukannya sendiri dan gugur dalam sebuah peperangan. Sebagai penggantinya, Sulaiman bin Abdul Malik mengangkat Abdurrahman Ats-Tsaqafi.

Sementara itu, Hajjaj bin Yusuf meninggal terlebih dahulu daripada Walid bin Abdul Malik. Namun demikian, keluarganya tak ada yang luput dari kebijakan Kalifah Sulaiman. Mereka yang masih memegang jabatan langsung diberhentikan.

Tindakan fatal lainnya yang dilakukan Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik adalah membebaskan para tahanan politik di Irak dan Iran. Dilihat dari sudut kemanusiaan, sekilas tindakan ini positif. Namun di sisi lain, mereka yang menentang pemerintahan selama ini menjadi bebas berbuat apa saja.

Ketika masih hidup, Hajjaj bin Yusuf dan Qutaibah bin Muslim sepakat untuk mengangkat Abdul Azis bin Walid sebagai calon pengganti sang khalifah. Namun, Walid bin Abdul Malik meningga sebelum sempat menetapkan keputusan itu.

Itulah yang membuat Khalifah Sulaiman tidak senang dengan Hajjaj dan Qutaibah. Rasa tidak senang itu sudah terbaca oleh Qutaibah. Apalagi ketika melihat tindakan Khalifah Sulaiman terhadap keluarga Hajjaj dan Musa bin Nushair.
Qutaibah bin Muslim menggerakkan rakyat Khurasan untuk memberhentikan Khalifah Sulaiman. Namun kekuatannya kalah. Ia gugur dalam peperangan. Sebagai gantinya diangkatlah Wakki At-Tamimi.

Sedangkan jabatan Hajjaj bin Yusuf tak pernah diisi lagi. Khalifah Sulaiman menunjuk Yazid bin Muhallib sebagai gubernur wilayah Irak dan Iran. Karena kemampuannya, Yazid bin Muhallib diangkat menjadi gubernur wilayah Khurasan menggantikan Wakki At-Tamimi. Selanjutnya, gubernur Yazid melebarkan sayap kekuasaannya ke daerah Tabaristan dan Jurjan.

Sementara itu, kemenangan Panglima Maslamah bin Abdul Malik di daerah Asia Kecil pada masa pemerintahan Khalifah Walid bin Abdul Malik, membuat geger imperium Romawi Timur. Hal itu membangkitkan minat Khalifah Sulaiman untuk menaklukkan Konstantinopel.

Ia pun mempersiapkan bala bantuan berkuatan 120.000 orang untuk memperkuat pasukan saudaranya. Khalifah Sulaiman sendiri ikut dalam pasukan itu. Namun ia terpaksa berhenti di Caesarea wilayah Galtia karena sakit. Sedangkan Maslamah dan pasukannya meneruskan perjalanan. Pasukan Romawi tidak mengadakan perlawanan. Mereka bertahan di benteng Konstantinopel dalam kepungan pasukan kaum Muslimin yang cukup lama.

Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik wafat dalam usia 45 tahun. Keinginannya untuk menaklukkan ibukota Konstantinopel gagal. Di antara yang dapat dikenang pada masa pemerintahannya adalah menyelesaikan pembangunan Masjid Al-Jami’ Al-Umawi yang dikenal megah dan agung di Damaskus.

Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik mempunyai seorang putra mahkota bernama Ayyub bin Sulaiman yang sudah ia siapkan sebagai penggantinya. Namun sayang, sang putra meninggal dunia sebelum niat ayahnya tercapai. Khalifah Sulaiman berniat mencalonkan putranya yang lain, namun karena masih terlalu muda, Raja’ bin Haiwa’, seorang tabiin penasihat utama istana menyarankan agar niat itu ditunda. Raja’ mengusulkan nama Umar bin Abdul Azis.

Lobi yang dilakukan Raja’ berhasil. Umar bin Abdul Azis pun diangkat sebagai khalifah kedelapan pengganti Sulaiman bin Abdul Malik. Sejarah pun membuktikan, pilihan sang ulama tidak meleset. Pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Azis, Daulah Umayyah mengalami kegemilangan, sehingga para ahli sejarah menjuluki Umar bin Abdul Azis sebagai Khalifah Ar-Rasyidah kelima setelah Ali bin Abi Thalib.

sumber:http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/04/22/lk28iz-daulah-umayyah-sulaiman-bin-abdul-malik-715-717-m-khalifah-ketujuh

Marwan bin Hakam (684-685 M) Sosok Kontroversial

REPUBLIKA.CO.ID, Muawiyah bin Yazid mengundurkan diri tanpa menunjuk seorang pun sebagai penggantinya. Para pemuka dan pembesar keluarga Bani Umayyah yang tetap ingin mempertahankan jabatan khilafah berada di tangan mereka, segera mengangkat Marwan bin Hakam sebagai khalifah keempat Bani Umayyah.

Sebagian besar penduduk Yaman yang berada di wilayah Syam menyatakan berada di pihak Bani Umayyah. Termasuk di antara mereka Husain bin Alnamir, panglima perang yang pernah memimpin pasukan untuk menyerang Abdullah bin Zubair di Makkah. Dengan demikian, kendati tak mendapat dukungan dari wilayah Hijaz, Irak, Iran dan bahkan Mesir, namun dukungan sebagian penduduk Yaman itu, pihak Bani Umayyah mendapat kekuatan yang tak bisa diabaikan.

Marwan bin Hakam bukanlah sosok baru dalam catur perpolitikan kala itu. Sebelumnya, ia pernah menjabat penasihat Khalifah Utsman bin Affan. Pengaruhnya tidak kecil terhadap kebijakan pemerintahan. Tak sedikit kebijakan yang ditelurkan Khalifah Utsman kental aroma kekeluargaan. Beberapa gubernur kala itu banyak yang diganti dengan orang-orang dari pihak keluarga Umayyah. Misalnya, jabatan gubernur di Mesir yang dipegang oleh Amr bin Ash, diganti oleh Abdullah bin Sa’ad.

Abu Ubaidah bin Jarrah yang berhasil menaklukkan wilayah Syria dan Palestina dari tangan Romawi, jabatannya digantikan oleh Muawiyah bin Abi Sufyan. Sa’ad bin Abi Waqqash yang berhasil menaklukkan wilayah Irak dan Iran dari tangan Persia, jabatannya digantikan oleh Ziyad bin Abihi. Begitu pun dengan beberapa wilayah lain. Sebagian besar para pemimpinnya diganti dengan orang-orang dari pihak keluarga Umayyah. Kebijakan ini tak bisa dilepaskan begitu saja dari pengaruh Marwan bin Hakam, mengingat kondisi Khalifah Utsman yang sudah lanjut usia kala itu.

Kebijakan yang tidak terjadi sebelumnya itu, melahirkan berbagai ketidakpuasan. Gejolak muncul di beberapa tempat. Puncaknya, Khalifah Utsman terbunuh. Marwan bin Hakam melarikan diri ke Damaskus dengan membawa pakaian Utsman yang berlumuran darah. Lantaran merasa tidak puas dengan kebijakan Khalifah Ali yang tidak segera mengusut pembunuh Utsman, menyebabkan semakin keruhnya suasana.

Terjadilah Perang Shiffin antara Khalifah Ali dan Muawiyah. Dari sana lahir kelompok Khawarij, yang merasa tak puas dengan kedua belah pihak, serta berniat membunuh Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abi Sufyan, dan Amr bin Ash yang dianggap sebagai penyebab segala kekeruhan.

Khalifah Ali terbunuh. Hasan bin Ali yang hanya menjabat Khalifah selama beberapa bulan, menyerahkan jabatannya kepada Muawiyah. Pada masa inilah, Marwan diserahi jabatan gubernur untuk wilayah Hijaz yang berkedudukan di Madinah. Begitu penduduk Madinah menyatakan dukungan kepada Abdullah bin Zubair, Marwan melarikan diri ke Damaskus.

Dengan demikian, sosok Marwan bin Hakam tidak begitu diterima oleh para sahabat dan tabiin kala itu. Bahkan beberapa ahli sejarah seperti Adz-Dzahabi seperti dikutip Suyuthi dalam Tarikhul Khulafa’-nya tidak memasukkan Marwan sebagai khalifah.

Pertentangan antara pihak Abdullah bin Zubair dan Marwan bin Hakam mencapai puncaknya pada Perang Marju Rahith yang terjadi pada 65 H. Pada peperangan ini pasukann Abdullah bin Zubair mengalami kekalahan cukup telak. Penduduk wilayah Mesir dan Libya yang semula berpihak padanya, mengangkat baiat atas Marwan. Namun wilayah Hijaz, Irak dan Iran tetap tunduk kepada Abdullah bin Zubair.

Dengan demikian, pada masa itu wilayah Islam terpecah menjadi dua khilafah. Daerah Hijaz dan sekitarnya termasuk Makkah dan Madinah tunduk kepada Abdullah bin Zubair. Sedangkan wilayah Syria berada dalam kekuasaan Marwan bin Hakam.

Untuk mengukuhkan jabatan khilafahnya itu, Marwan bin Hakam yang sudah berusia 63 tahun itu mengawini Ummu Khalid, janda Yazid bin Muawiyah. Perkawinan yang tidak seimbang itu sangat kental aroma politik. Dengan mengawini janda Yazid, Marwan bermaksud menyingkirkan Khalid, putra termuda Yazid dari tuntutan khilafah.

Dalam suatu kesempatan, Marwan sempat memberikan ejekan kepada Khalid dan ibunya. Akibatnya fatal, Ummu Khalid menaruh dendam yang luar biasa. Pada suatu kesempatan, ketika Marwan mendatanginya, bersama para dayang, Ummu Khalid mencekik Marwan beramai-ramai. Marwan meninggal pada usia 63 tahun. Ia hanya menjabat sebagai khalifah selama 9 bulan 18 hari. Masa pemerintahannya tak membawa banyak perubahan bagi sejarah Islam.

sumber:http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/04/21/lk035c-daulah-umayyah-marwan-bin-hakam-684685-m-sosok-kontroversial