Ibadahkan Semua Aktifitas Kita

Kata ibadah biasanya identik dengan hal-hal yang kelihatan sakral dengan ritual dan tempat tertentu. Pemahaman seperti itu tidak sepenuhnya salah, akan tetapi sepertinya kurang tepat. Ibadah sendiri berasal dari kata “abada” yang kurang lebih berarti kelemahan dan ketundukan. Sedangkan kata ibadah adalah masdar dari kata abada yang berarti merendahkan diri. Dari arti kata ibadah dapat dipahami bahwa ibadah itu intinya adalah di hati bukan di tindakan. Tindakan merupakan representasi dari keadaan hati.

Seseorang yang mempunyai hati yang baik maka akan mempunyai tindakan yang baik. Meskipun semua tindakan baik belum tentu karena kebaikan hati, bisa saja ada niat-niat tertentu yang melandasi segala perbuatan. Jika ibadah itu berdasarkan pada niat di hati, maka jika ada yang mengatakan bahwa suatu aktifitas ini bukan ibadah dan aktifitas itu ibadah karena ada ritual dan dilakukan di tempat tertentu sudah dapat dipastikan bahwa pengetahuan seseorang akan ibadah masih kurang luas. Dengan luasnya pemahaman tentang ibadah maka untuk mengimplementasikan “Dan tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku (Al-Ayah)” tidak akan rumit karena memang semua aktifitas dan tindakan dapat dijadikan sebagai sarana beribadah kepada Allah.

Memang ada ibadah yang sudah ditetapkan (mahdzah) seperti shalat, puasa, zakat dan haji. Akan tetapi ibadah yang tidak di tetapkan (ghoiru mahdzah) lebih banyak. Kadang karena pengalur pemikiran sekarang yang cenderung memisahkan antara agama dengan kehidupan (sekuler), pemahaman ibadah akan terjebak kepada ibadah mahdzah dan yang ghiru mahdzah tidak dianggap sebagai ibadah namun hanya dianggap sebagai rutinitas saja. Misalkan makan dan minum, memang secara hukum aktifitas ini hukumnya secara fiqh adalah mubah. Akan tetapi aktifitas ini akan menjadi ibadah yang sangat tinggi nilainya jika diniatkan dengan makan dan minum akan membuat badan seseorang menjadi kuat dan sehat sehingga akan mudah dan ringan dalam melakukan berbagai aktifitas seperti shalat, belajar, membantu orang lain, bekerja dan lain sebagainya maka hukum makan ini akan menjadi sunnah bahkan menjadi wajib bila seseorang yang tidak mau makan akan menghambat dia untuk beraktifitas lain.

Pada akhirnya, setiap seorang muslim harus mempunyai pandangan yang luas mengenai ibadah. Ibadah bukan hanya dengan shalat di masjid, membaca Al-Quran dengan keras, puasa namun lebih luas lagi ibadah merupakan segala aktifitas yang diniatkan untuk menjalankan tugas kekholifahan yang telah diamanatkan Allah kepada seorang muslim untuk membuat dirinya, keluarganya, masyarakatnya, rakyatnya, lingkunganya, negaranya dan dunianya menjadi ladang ibadah kepada Allah sebagai bekal kelak ketika melaporkan pertanggungjawaban segala perbuatan seorang muslim ketika hidup di dunia. Wallahu a’lam..

Sumber

Advertisements

Tolonglah Saudaramu….!!

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah,
niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad : 7).
Seperti kisah nabi Musa AS yang merasa sudah berguna di hadapan Allah SWT. karena
beliau sudah menyembah dia dengan setulusnya. Namun Alloh SWT menjawab kalau dia
belum berguna untuk Alloh, karena semua ibadahnya itu sebenarnya tidak di butuhkan oleh Allah
namun itu adalah untuk nabi Musa AS. sendiri. Kemudian nabi Musa AS. bertanya kepada Allah :
“lantas bagaimana Ya Alloh aku dapat berguna bagi-Mu ya Alloh??”. Alloh menjawab :” Tolonglah
hamba-hambaku..”